– Pendiri sekaligus pengurus
Musala Al Hidayah, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi,
Jawa Barat, Rojali menjadi saksi kunci atas kasus dugaan pencurian
amplifier oleh MA yang membuatnya dibakar hidup-hidup pada Selasa
(1/8/2017) yang lalu.
Melansir dari Tribunnews.com, ia menjelaskan segala duduk perkaranya berdasarkan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri pada Sabtu (5/8/2017).
Ia yang ditemui di musala tempat korban dibakar pun terlihat matanya memerah karena tidak bisa tidur.
“Tidak bisa tidur nyenyak,” kata Rojali.
Dirinya memang lebih dikenal marbot Musala Al Hidayah oleh penduduk setempat.
Ia pun menceritakan kronologi peristiwa hilangnya amplifier musala hingga MA yang diduga sebagai pelaku pencurian.
Rojali mengaku dirinya masih sangat mengingat kejadian tersebut yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, usai waktu salat Ashar.
Diketahui, MA masuk dan keluar musala tanpa menyapa maupun memberi salam saat bertemu dengan dirinya.
Padahal, saat itu Rojali sedang membersihkan halaman musala.
Ia menceritakan bahwa MA datang ke musala beberapa menit setelah
dirinya mengumandangkan adzan Ashar dan melaksanakan salat berjamaah
dengan sang anak yang bernama Fahmi.
Setelah salat Ashar, Rojali pun bertemu dengan MA. Saat itu, MA terlihat kebingunan mencari tempat untuk berwudhu.
Rojali pun tidak berprasangka apapun soal MA yang tidak dikenalnya tersebut.
Ia pun mengambil selang air untu diisi di dalam ember besar yang
tidak jauh dari halaman musala, ia hendak menyiram permukaan tanah
berdebu di depan musala.
Ia harus melakukan itu karena pihaknya akan menyelenggarakan haul
organisasi desa di dalam dan juga halaman musala pada malam harinya.
Saat tengah menyiram air ke tanah, Rojali melihat WA sedang mengambil air wudhu di sisi kanan musala.
Tak lama, Rojali kembali pergi untuk mengecek warung pulsanya yang berada di sekitar 10 meter di depan musala.
Kemudian, ia kembali lagi ke dalam musala untuk menyelesaikan tugas bersih-bersihnya untuk mempersiapkan haul.
Rojali kembali berpapasan muka dengan MA yang saat itu keluar
meninggalkan musala. Namun, untuk kali kedua ia tidak melihat ada senyum
maupun sapa dari MA.
“Pas keluar ya biasa saja, saya tidak memerhatikan betul dia. Hanya lewat saja sudah,” tuturnya.
Saat itu, paman Rojali, Zainudin (54) pun datang ke musala untuk
membantu mengecek peralatan sound system yang akan digunakan nantinya.
Rojali pun baru tersadar jika satu amplifier musala tidak ada di tempatnya asalnya yaitu di samping ruang imam.
Melansir dari Tribunnews.com, ia menjelaskan kepada pamannya bahwa sebelumnya amplifier tersebut masih ada dan digunakan saat salat Ashar.
Namun, ia teringat bahwa ada MA sendirian di dalam musala dan ia menjadi orang yang terakhir ke musala tersebut.
MA pun langsung dicari oleh sejumlah orang dari Desa Hurip Jaya usai
Rojali menceritakan kehilangan amplifier kepada para tetangga sekitar
dan anak-anak muda yang ada di sekitar rumahnya.
Para warga pun langsung berpencar mencari orang yang membawa sepeda motor berwarna merah dan amplifier di depan joknya .
“Ampli-nya lumayan besar. Jadi saya pikir akan ditaruh di antara jok
motor dan setang. Saya mintakan bantuan untuk menemui sepeda motor bebek
warna merah,” kata dia.
Rojali sendiri juga sempat berdoa di dalam hati agar sepeda motor pencuri amplifier musala tersebut mengalami ban bocor.
Pada awalnya, pencarian yang dilakukan selama 30 menit tersebut tidak berhasil. Rojali pun memutuskan kembali ke musala.
Namun, saat perjalanan pulang, Rojali pun melihat sepeda motor dan pengendara dengan ciri-ciri seperti yang ia temui di musala.
Ia langsung memutar balik sepeda motornya dan tancap gas mengejar motor yang diduga pelaku pencuri amplifier musala tersebut.
Saat dekat, Rojali pun memepet sepeda motor merah tersebut dan berteriak.
“Hai, itu amplifier saya.”
Namun, bukannya berhenti, pengendara motor bebek warna merah tersebut malah berusaha melarikan diri dengan memacu kendaraannya.
Sejumlah warga dengan motornya di tepi jalan pun melihat kejadian tersebut dan ikut bergabung melakukan pengejaran.
Kejar-kejaran dari sejumlah warga terhadap sepeda motor yang dikendarai MA tak terelekkan.
Pengejaran terjadi hingga 500 meter sebelum akhirnya MA menghentikan laju sepeda motornya di tepi kali.
Selama pengejaran, Rojali bahkan tidak meneriaki MA dengan sebutan ‘maling’.
Teriakan tersebut justru datang dari sejumlah warga yang didominasi
anak muda yang sudah berkumpul di tepi kali tempat MA menyeburkan diri.
“Saya
saat itu juga ikut mengejar. Tapi Demi Allah, Demi Rasulullah, saya
tidak meneriaki dia. Justru saya meminta agar dia dilepaskan dan
amplifier musala bisa kembali,” kata dia dengan suara tegas.
Bogem mentah pun tidak dapat dihindari lagi dan MA keluar dari kali dan tersungkur di jalanan.
Rojali pun masuk dalam kerumunan dan meminta tokoh masayarakat setempat untuk menenangkan massa.
Beberapa pukulan pun melayang ke arah belakang Rohali dan tokoh agama yang berusaha melindungi MA.
“MA sempat bangun dan bersujud minta maaf di hadapan saya. Dia bilang minta maaf berulang kali,” suara Rojali mulai lirih.
Keadaan saat itu pun sempat tenang saat tokoh masyarakat hadir dan akan membawa MA ke Balai Desa setempat untuk dilindungi.
Rojali mempercayai langkah selanjutnya kepada tokoh setempat untuk
penanganan selanjutnya dan kembali ke motornya untuk mengambil satu
amplifier yang dibawa oleh MA.
“Saya baru tahu malamnya kalau dia dibakar. Demi Allah, itu biadab
sekali. Tak pernah saya berpikir kalau akan berakhir seperti itu. Allah
membalas perbuatan itu,” ucapnya seraya jari telunjuknya menghadap ke
atas.